studentsite.gunadarma.ac.id

Akses semua informasi yang terkait dengan perkuliahan melalui fasilitas ini.

gunadarma

Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan.

Minggu, 05 Januari 2014

TULISAN 6: PELAPISAN SOSIAL DAN KESAMAAN DERAJAT

kekayaan
Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, yang tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja,serta kemampuannya dalam berbagi kepada sesame

Ukuran kekuasaan dan wewenang

Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.

 kehormatan

Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.

 ilmu pengetahuan


Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.

TULISAN 7: MASYARAKAT PEDESAAN DAN MASYARAKAT PERKOTAAN

Kehidupaan masyarakat desa berbeda dengan masyarakat kota. Perbedaan yang paling mendasar adalah keadaan lingkungan, yang mengakibatkan dampak terhadap personalitas dan segi-segi kehidupan. Kesan masyarakat kota terhadap masyarakat desa adalah bodoh, lambat dalam berpikir dan bertindak, serta mudah tertipu dsb. Kesan seperti ini karena masyarakat kota hanya menilai sepintas saja, tidak tahu, dan kurang banyak pengalaman.
Untuk memahami masyarakat pedesaan dan perkotaan tidak mendefinisikan secara universal dan obyektif. Tetapi harus berpatokan pada ciri-ciri masyarakat. Ciri-ciri itu ialah adanya sejumlah orang, tingal dalam suatu daerah tertentu, ikatan atas dasar unsur-unsur sebelumnya, rasa solidaritas, sadar akan adanya interdepensi, adanya norma-norma dan kebudayaan.
Masyarakat pedesaan ditentukan oleh bentuk fisik dan sosialnya, seperti ada kolektifitas, petani individu, tuan tanah, buruh tani, nelayan dsb.
Masyarakat pedesaan maupun masyarakat perkotaan masing-masing dapat diperlakukan sebagai sistem jaringan hubungan yang kekal dan penting, serta dapat pula dibedakan masyarakat yang bersangkutan dengan masyarakat lain. Jadi perbedaan atau ciri-ciri kedua masyarakat tersebut dapat ditelusuri dalam hal lingkungan umumnya dan orientasi terhadap alam, pekerjaan, ukuran komunitas, kepadatan penduduk, homogenitas-heterogenotas, perbedaan sosisal, mobilitas sosial, interaksi sosial, pengendalian sosial, pola kepemimpinan, ukuran kehidupan, solidaritas sosial, dan nilai atau sistem lainnya.
Contohnya dalam lapangan pekerjaan, sebagian besar masyarakat pedesaan lebih tertarik untuk mencari nafkah di kota, karena di kota lebih luas lapangan kerjanya dari pada di desa, lain halnya masyarakat kota yang selalu memilih tempat liburan ketika ingin mendinginkan fikiran dan hati karena padatnya kehidupan di kota kebanyakan memilih berliburan di daerah - daerah pedesaan. 
Kesimpulan:
Jadi intinya, masyarakat perkotaan secara tidak langsung membutuhkan adanya masyarakat pedesaan, begitu pula dengan sebaliknya, masyarakat pedesaan juga membutuhkan keberadaan masyarakat perkotaan, meskipun keduanya memiliki perbedaan ciri-ciri dan aspek-aspek yang terdapat di dalam diri mereka. Keduanya memiliki aspek positif dan aspek negatif yang saling mempengaruhi keduanya dan saling berkesinambungan.


TULISAN 10: PRASANGKA DISKRIMINASI DAN ETNOSENTRISME

Sebelumnya,saya ingin memberikan sharing tentang ini karena saya tau masih banyak terjadi diskriminasi Etnis,khususnya Tionghua yang belum hilang 100% dan melalui sharing ini saya tidak ingin adanya diskriminasi diantara kita, Saya harap dengan sharing ini,Bhinneka Tunggal Ika di negara ini semakin kuat dan menjadi luas pengetahuannya 

Baru2 ini di Medan ada sebuah demo yang menyangkut pautkan Etnis Tionghua yang kenyataannya tidak ada hubungan sama sekali dengan Etnis Tionghua (kenyataannya adalah,sebuah Mesjid di Medan dirubuhkan karena sebuah perusahaan Hotel membeli tanah itu untuk kepentingan bisnis semata)

Setiap tahun baru china,selalu saja ada masalah diskriminasi etnis Tionghua yang entah berasal darimana itu.Saya sendiripun jujur bingung, apa masalah nya etnis Tionghua ini merayakan tahun baru China?ketika mereka bilang "lo ini di Indonesia,ngapain rayain tahun baru china?ke negara asal lo aja sana" I think that's a really2 stupid statement why?Pertama,kita ini lahir di Indonesia. . . lahir di Tanah Air tercinta.Otomatis ya jadi orang Indonesia lah,asli WNI. . . Kalau keturunan Tionghua ngaku2 di negara China "wo shi zhong guo ren" (saya adalah orang China) jelas2 bakal diketawain 1 negara itu,secara lahir di Indo kok ) Kedua,apa bedanya dengan Tahun berjenis lain seperti tahun Arab atau tahun Jawa yang juga ada di Indonesia dan dirayakan juga? Statement mereka itu kalau saya counter balik,paling mereka cuma bisa marah tanpa bisa menjawab apapun 
)

Jujur,saya sendiri bingung alasan apa sejak tahun 1900an bangsa pribumi sangat membenci Etnis Tionghua. Padahal seperti yang diketahui,Etnis Tionghua sendiri pada saat penjajahan Belanda itu diperlakukan lebih kejam (seperti binatang) daripada bangsa pribumi. Banyak Etnis Tionghua dibunuh (berpuluh2 ribu) dan ditenggelamkan di Kali Angke pada tahun 1700an. Karena saya penasaran,saya pun mencari2 artikel tentang hal ini dan sangat sulit menemukan yang sekiranya alasan utama mereka membenci Etnis Tionghua.
Saya berikan referensi yang saya temukan

Sejarawan JJ Rizal menilai salah satu sebab kesenjangan sosial juga diakibatkan dari perubahan budaya etnis Tionghoa di Indonesia. Rizal menilai, salah satu contohnya adalah ucapan "Gong Xi Fa Cai" saat perayaan Imlek atau Tahun Baru Cina.

Rizal kemudian menceritakan, dahulu etnis Tionghoa merayakan Imlek untuk menyambut musim semi. Mereka saling mengucapkan "Xin Chun Gong Xi" yang artinya "Selamat merayakan musim semi baru". Namun, saat ini diubah menjadi "Gong Xi Fa Cai" yang artinya "Selamat dan cepatlah menjadi kaya".

"Nah, inilah yang membuat orang keturunan Tionghoa identik dengan makhluk ekonomi semakin jelas. Karena 'Selamat menjadi kaya raya'," kata Rizal dalam diskusi "Polemik" Radio Sindo, di Jakarta, Sabtu, 21 Januari 2012.

Menurut Rizal, ini menyebabkan prasangka-prasangka di masa lalu terhadap etnis Tionghoa kembali dirasakan. "Mereka kerap mendapat tindakan dan perlakuan rasisme, serta kambing hitam dari kesenjangan ekonomi yang terjadi di masyarakat," ucap Rizal.


Menurut saya,alasan ini sangat tidak masuk akal,apalagi prasangka orang di masa lalu yang menurut saya itu sama sekali salah mengartikan. Maksud dari ucapan "Gong Xi Fa Cai" yang sebenarnya adalah BUKAN gila harta MELAINKAN mengucap syukur untuk tahun baru dan semoga mendapat berkah dan rejeki dari Yang Di Atas. Coba dipikir baik2. . . mengucap syukur dan berdoa untuk itu,apakah itu salah??Tidak bukan??

Lanjutan berita di atas

Tapi, menurut perwakilan Komunitas Glodok Hermawi Taslim, banyak etnis Tionghoa yang memilih profesi sebagai pedagang karena takut berpolitik. "Karena itu tidak ada pilihan lain. Berdagang kan tidak ada aturannya," ucap Hermawi.

Senada dengan Hermawi Taslim, Ketua Yayasan Solidaritas Nusa Bangsa Ester Yusuf mengatakan, ada trauma besar yang dialami etnis Tionghoa dalam berpolitik. Karena banyak etnis Tionghoa yang ikut berpolitik, kemudian hilang.

Apalagi, saat itu China merupakan negara berpaham komunisme, yang juga dinilai menjadi kiblat politik Partai Komunis Indonesia. "Orang-orang yang dekat dengan PKI itu habis, itu seperti peringatan kepada mereka untuk berpolitik di masa depan. Sampai saat ini, banyak orang tua yang melarang anaknya masuk politik," kata dia.

JJ Rizal kemudian menambahkan, banyak etnis Tionghoa yang berprofesi sebagai pedagang, karena pemerintah kolonial Belanda memposisikan etnis Tionghoa sebagai perantara. "Posisinya memang dibuat seperti itu, mereka disebut hantu uang," ujar Rizal.

Kemudian saat perekonomian etnis Tionghoa mulai meluas dan berkembang, terjadi pembantaian besar-besaran terhadap etnis Tionghoa pada tahun 1740. Pembantaian itulah, kata Rizal salah satu penyebab etnis Tionghoa takut untuk berpolitik. Selain itu, kata dia adanya Undang-Undang serta saat itu etnis Tionghoa diposisikan sebagai sapi perah.

"Saat itu pemerintah harus menggaji PNS, dari mana uang itu? Mereka memeras orang keturunan Tionghoa. Mesin ekonominya itu yang akan dicari, yaitu masyarakat minoritas yang menjadi perantara itu," kata dia.


Sudah jelas dari penggalan berita diatas bahwa Etnis Tionghua sangat diperlakukan tidak manusiawi bahkan bias lebih buruk dari bangsa pribumi itu sendiri.

Masalah politik. . . memang benar saat itu RRC (Republik Rakyat China) menganut komunisme. Tapi apakah kalian tau bahwa banyak juga orang China disana sangat tidak menyukai sistem komunisme tersebut?Alasan utama itu lah banyak orang China merantu ke negeri orang lain,termasuk Indonesia (dan saat ini percaya tidak percaya,setiap negara di Dunia ini pasti ada Chinatown nya)
Dan tujuan utama Etnis Tionghua masuk ke negara orang lain adalah berdagang!!Jelas Etnis Tionghua trauma berpolitik,apalagi terjadinya pembantaian massal Etnis Tionghua pada saat ini.
Yang perlu saya tekankan adalah berdagang itu bertentangan dengan komunis!!

TULISAN 9 : AGAMA DAN MASYARAKAT

WUJUDKAN TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA
Tiap agama mengajarkan toleransi
“Bagi kalian agama kalian, dan bagi kami agama kami.”
Ayat tersebut tertera dalam surat (Al-Qur’an) Al-Kafirun ayat 6 yang menggambarkan toleransi dalam agama Islam. Selain ayat diatas, banyak ayat lain yang tersebar di berbagai surat, praktik toleransi dalam sejarah Islam, dan hadis Rasulullah, seperti “Agama yang paling dicintai Allah adalah agama yang lurus dan toleran.”

Tak hanya Islam, lima dari enam agama yang diakui di Indonesia, yakni Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan Kong Hu Chu, juga mengajarkan, bahkan menganjurkan untuk saling bertoleransi antar umat. Seperti ucapan dalam ajaran agama Katolik, sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Konsili Vatikan II tentang sikap terhadap agama-agama lain, yang berpegang teguh pada hukum yang paling utama, yakni “Kasihanilah Tuhan dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap hal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Kasihanilah sesama manusia seperti dirimu sendiri.”

Isi deklarasi diatas menggambarkan bahwa pada dasarnya manusia memiliki hak yang sama, tidak ada rasa untuk membeda-bedakan meski berlainan agama. Juga memiliki sikap saling menghormati agar tercipta kehidupan yang rukun dan damai.

Agama lain pun mengajarkan pula tentang masalah kerukunan. Dalam pandangan agama Hindu untuk mencapai kerukunan antar umat beragama, manusia harus memiliki dasar hidup yang disebut Catur Purusa Artha, yang mencakup Dharma, Artha, Kama, dan Moksha. Dharma artinya susila dan berbudi luhur. Dengan Dharma, seseorang akan mencapai kesempurnaan hidup, baik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Artha, yakni kekayaan yang memberi kepuasan hidup. Kama pun diperoleh berdasarkan Dharma. Moskha berarti kebahagiaan yang abani, yakni tujuan akhir dari agama Hindu yang tiap saat selalu dicari sampai berhasil. Upaya mencari Moskha juga beerdasar pada Dharma.

Keempat dasar inilah yang merupakan titik tolak terbinanya kerukunan antarumat beragama. Keempat dasar tersebut memberikan sikap saling menghormati dan saling menghargai keberadaan umat beragama lain. Tidak saling mencurigai, juga tidak saling menyalahkan.

Sedangkan menurut agama Buddha, berkembangnya perpecahan dan hancurnya persatuan serta kerukunan mengakibatkan pertentangan dan pertengkaran. Sang Buddha bersabda dalam Dharma pada ayat 6, yakni “Mereka tidak tahu bahwa dalam pertikaian mereka akan hancur dan musnah, tetapi mereka yang melihat dan menyadari hal ini akan damai dan tenang.”

Dalam pandangan Kristen Protestan, aspek kerukunan hidup beragama dapat diwujudkan melalui Hukum Kasih yang merupakan pedoman hidup, yakni mengasihi Allah dan sesama manusia. Kasih merupakan hukum utama dan yang terutama dalam kehidupan umat Krsiten. Landasan kerukunan menurut agama Protestan bersandar pada Injil Matius 22:37.

Pandangan terakhir, yakni dari agama Kong Hu Chu, manusia memiliki lima sifat mulia untuk menciptakan kehidupan harmonis, yakni Ren (cinta kasih), Gi (solidaritas), Lee (sopan santun), Ce (bijak, pengertian dan kearifan), dan Sin (rasa percaya). Memperhatikan ajaran Kong Hu Chu tersebut, lima sifat mulia tersebut sangat menekankan hubungan yang harmonis antara sesama manusia dengan manusia lainnya, tanpa membedakan agama dan keyakinan, disamping hubungan harmonis dengan Tuhan dan serta lingkungannya.

Terbukti SUDAH !!! tiap agama mengajarkan untuk saling mengasihi dan menyayangi tiap umat tanpa memandang keyakinannya. Sayangnya, lagi-lagi konflik antar umat beragama terjadi untuk kesekian kalinya di Indonesia seperti
Contoh Kasus Konfil Poso Dan Ambon:

Tuhan memang menciptakan manusia di dalam berbagai jenisnya. Ada ras, suku, dan etnis yang bervariasi. Makanya juga ada warna kulit, bentuk tubuh, dan lain-lain yang berbeda-beda. Tetapi justru si inilah letak keindahannya. Secara antropologis, biologis dan psikhologis memang Tuhan menciptakan manusia dalam rupa dan bentuk yang berbeda. Tetapi seluruh perbedaan itu justru menjadikan dunia menjadi warna-warni dan menghadirkan keanekaragaman.
Dalam dunia biologis disebut sebagai keanekaragaman hayati, dari sisi antropologis melahirkan keanekaragaman budaya dan tradisi, sedangkan dari sisi psikhologis menghadirkan kenekaragaman sifat dan kejiwaan. Dari dimensi sosiologis menghadirkan penggolongan social yang unik. Kemudian dari sisi agama juga melahirkan keanekaragaman agama dan penganutnya.

Di dalam kehidupan ini, sesungguhnya memang tidak ada yang bersifat tunggal. Semuanya bervarian-varian. Akan tetapi justru melalui varian-varian ini tampaknya Tuhan memang ingin memberi pelajaran kepada manusia tentang keindahan bervariasi tersebut. Andaikan kehidupan ini tidak bervariasi, maka tidak ada keindahan yang menyelimuti kehidupan manusia itu.
Perbedaan antar individu adalah bagian dari rencana Tuhan terhadap kehidupan manusia. Cobalah lakukan pencermatan terhadap manusia. Maka akan ada sejumlah perbedaan. Dari sidik jari agan agan saja, misalnya akan dijumpai perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Seakan Tuhan juga memang menciptakan manusia melalui identitas yang sangat berbeda dari sidik jari. Secara biologic dan fisik juga menunjukkan perbedaan-perbedaan yang signifikan.

Secara individual manusia memang memiliki sejumlah perbedaan. Akan tetapi ternyata mereka bisa berpasang-pasangan. Ada pasangan lelaki dengan perempuan yang diikat oleh tali perkimpoian. Ada pasangan lelaki dengan lelaki atau perempuan dalam konteks persahabatan. Ada pasangan lelaki, lelaki atau perempuan dalam ikatan organisasional, pekerjaan, politik, agama dan sebagainya.

Inilah yang disebut sebagai KEINDAHAN HIDUP. Orang berbeda-beda tetapi bisa saling menyatu, bersatu padu, mengayunkan langkah bersama dan sebagainya. Manusia sungguh-sungguh berbeda, akan tetapi memiliki kemampuan untuk menyatukan diri dalam ikatan-ikatan sosiologis yang sangat padu. Bahkan juga tidak hanya perbedaan fisik dan piskhis akan tetapi juga perbedaan kepentingan dan orientasi kehidupan. Namun di sisi lain, mereka bisa menyatu di dalam penggolongan kehidupan social dan politik atau lainnya.

Dalam keadaan berbeda tetapi bisa menyatu atau diversity in unity atau juga menyatu di dalam perbedaan atau unity in diversity, maka diandaikan bahwa meskipun manusia itu berbeda-beda akan tetapi memiliki kemampuan untuk menyatu dalam penggolongan-penggolongan social di dalam kehidupan. Memang manusia memiliki sisi kehidupan individu dan juga social. Manusia adalah makhluk individu dan sekaligus makhluk social.

Sebagai makhluk individu yang memiliki kepentingan berbeda dengan lainnya, maka benturan kepentingan dalam penggolongan social tentu tidak bisa dihindarkan. Meskipun mereka telah menjadi satu dalam penggolongan social akan tetapi tidak berarti bahwa mereka telah memiliki satu ikatan yang sama sekali menyatu. Tetap ada individualitas di tengah komunitas atau sosialitas.
Disebabkan oleh realitas sosial semacam ini, maka di dalam konsepsi social maka dikenal istilah toleransi. Yaitu perbedaan-perbedaan di dalam suatu komunitas atau sosialitas, yang tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk bersama karena ikatan-ikatan social yang mereka ciptakan dan lakukan.

Mereka membangun kesepahaman dan kebersamaan. Mereka membuat aturan sebagai pedoman untuk merajut kebersamaan itu. Mereka merumuskan kesepakatan agar kehidupannya menjadi damai. Inilah yang disebut sebagai kemampuan agensi manusia untuk merumuskan kebersamaan di tengah perbedaan yang bahkan sangat rumit dipersatukan.

Di dalam rumah tangga saja pasti ada perbedaan, bahkan pertentangan. Bisa antara suami dan istri, antara orang tua dan anak atau antar saudara. Akan tetapi manusia selalu memiliki kemampuan untuk merajut kembali perbedaan tersebut ke dalam kesatuan-kesatuan organic. Apalagi di dalam kehidupan segregasi di dalam kelompok. Yang pasti akan didapati perbedaan, pertentangan bahkan konflik yang terkadang sulit diredam. Namun demikian, selalu saja manusia memiliki kemampuan untuk melakukan negosiasi atas perbedaan tersebut.

Potensi berbeda yang bersandingan dengan potensi menyatu adalah keunikan manusia sebagai makhluk social. Dan inilah salah satu kelebihan manusia di dalam relasinya dengan dunia kehidupannya. Makanya, manusia dapat mengembangkan toleransi yang tidak ada putus-putusnya. Datang dan silih berganti. Jika ada konflik maka kemudian muncul rekonsiliasi. Demikian seterusnya.

Jadi, jika manusia kemudian mengembangkan sikap toleransi dalam banyak urusannya, maka sesungguhnya ini merupakan aktualisasi potensi manusia yang sebenarnya juga memendam toleransi itu di dalam dirinya.

Toleransi antar umat beragama, antar etnis, antar suku, dan sebagainya merupakan fondasi dasar bagi terselenggaranya kehidupan social yang teratur. Keteraturan social hanya akan terjadi jika di dalam kehidupan ini manusia mengembangkan toleransi di dalam banyak aspek kehidupan

TULISAN 8 : ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT

Mahalnya Sebuah Ilmu Pengetahuan
Pada suatu hari ada saudagar kaya raya sedang mencari seorang tukang kayu untuk memperbaiki kapalnya yang rusak. Saudagar tersebut pun bertemu dengan seorang penduduk desa dan bertanya "apakah di desa ini ada seorang tukang kayu yang ahli dalam memperbaiki kapal?"
Penduduk desa itu pun menjawab "Ada tuan, dia satu satunya ahli dalam masalah perkapalan di desa ini. Hanya saja bayarannya sangat mahal tuan."

"Tidak masalah, cepat panggilkan orang itu. Berapapun akan kubayar asalkan kapalku bisa kembali berlayar" sahut sang saudagar.

Singkat cerita tukang kayu itu pun datang dengan peralatan yang dibawanya. dia memeriksa seluruh bagian kapal, setelah selesai memeriksa, dia pun memukul 1 kali ke salah satu bagian kapal tersebut.
dan kapal tersebut pun sudah berfungsi kembali.
Saudagar sangat senang karena kapalnya sudah berfungsi kembali.
kemudian dia bertanya berapa ongkos yang harus dia bayar atas jasa perbaikan tersebut.
dengan kertas lusuh yang dibawa oleh tukang kayu tersebut, dia menuliskan angka sebesar Rp 10.000.000.

Saudagarpun kaget dan marah besar. dia pun berkata dengan kasar "Apa - apaan tagihan ini?!! kamu tidak melakukan pekerjaan yang berat. Dan tidak ada bagian yang diganti. Kamu hanya sekali memukul bagian dari kapalku saja. Cepat buat tagihan yang benar beserta perinciannya atau kamu akan saya laporkan kepada polisi!!!" Bentak saudagar sambil menyodorkan kembali kertas lusuh yang tadi diterimanya.
Tukang kayu pun menuliskan perincian atas tagihan tersebut dengan perincian sebagai berikut:

Ongkos Sekali Memukul = Rp 100.000
Untuk Tahu DImana Harus Memukul = Rp 9.900.000

Kemudian dia menyodorkan kembali tagihan tersebut kepada saudagar.
Saudagar tersebut pun tersenyum, lalu membayar tukang kayu tersebut sebesar tagihan yang diberikan kepadanya.


Sekolah itu mencari Ilmu Pengetahuan atau Nilai ya?

 

kalian pasti pernah ngerasain gimana jadi anak sekolahan kan entah itu SD,SMP, ataupun SMA
dan selama kalian sekolah agan ngerasain ga sih kalau kalian sekolah itu untuk apa dan mencari apa? Pengetahuan kah atau Nilai yg kalian incar? 
apakah orang tua kalian marah jika Nilai kalian Jelek atau dibawah KKM? apa ortu kalian marah jika kalian jadi veter atau tinggal kelas?

Setelah saya coba fikir sekolah kok lebih terpaku oleh Nilai dibanding Pengetahuan Asli ya..
Sedikit cerita nih tentang temen saya yg sependapat dengan saya. Tapi dia sefikiran sama saya,dia tuh ngerasa kalau sekolah cuman mencari Nilai,asal Nilai bagus pasti Lulus padahal apakah nilai yg siswa itu dapet Murni atau hasil nge-cheat/nyontek ?
Disekolah sekarang terutama sekolah saya dan sekitaran Jakarta lah saya mengambil kesimpulan untuk bisa lulus ada 2hal yg harus dipersiapkan dibanding Otak atau Pengetahuan kita
1.berlatih membulatkan jawaban LJK, (ini yg membuat galau ,karena jika jawaban benar tapi hasil bulatan tidak rapih pasti dianggap salah)
2.berlatih merayu, (khususnya merayu guru dalam meminta nilai remidi agar bisa tuntas pelajaran dia)

Sehebat apapun agan,kalau poin no.1 kalian remehkan pasti Nilai kalian anjlok dan no.2 kalau kalian ga jago ngerayu guru pasti bakal susah minta Nilai sama doi
ada loh temen saya Pintar bgt waktu SMP dia 5besar terus setiap smesternya nilai doi hampir semuanya 80-90 jarang dapet 70 kebawah,tapi naas saat UN nemnya hanya 29.75(seingat saya) jadi doi hanya bisa masuk SMA Swasta padahal doi inginnya masuk Negri (klo saya simpulin sih ini karena dia kurang mahir dalam membulatkan jawaban) tapi alhamdullilah doi di SMA naik ke kelas XI dapet jurusan IPA dengan nilai selalu diatas rata-rata

Lalu ada juga temen saya yg ini agak bandel dan Nilainya juga ya suka dibawah KKM lah,tapi apa? saat pengumuman UN doi lulus dengan nem 36.50. anak seperti itu bisa dapet nem setinggi itu.dan akhirnya dia masuk SMA Negri.Tapi naas juga dia tidak naik ke kelas XI alias jadi veter

Inikah sistem pendidikan kita?
Dimana kita dilatih hanya untuk membayar SPP dan membulatkan LJK?
lalu untuk apa kita diajarkan ini itu oleh guru kita kalau akhirnya Nilai lah yg menjadi kriteria kelulusan?

ya kalau saya sih pengennya semua sekolah di Indonesia sistem Ujiannya Lisan tapi sedikit soalnya.dengan begitu ga akan ada lagi cara curang dan kita semua bakal tau siapa yg pintar dan siapa yg pintar hasil ngecit dan dengan begitu mungkin yg namanya "NILAI" akan lebih berharga

karena saya lebih baik dapet Nilai 20 hasil jujur dan pengetahuan asli dibandingkan dengan nilai 100 hasil contekan

Itulah curahan saya dan temen saya tentang pendidikan di negri kita ini
ya mungkin pendapat kalian lainnya beda beda
karena yg saya inginkan hanya kejujuran dalam berkompetisi menjadi siswa yg pintar 

Kamis, 02 Januari 2014

TOPIK 10: PRASANGKA DISKRIMINASI DAN ETNOSENTRISME

1.       PERBEDAAN PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
Sikap yang negatif terhadap sesuatu, disebut prasangka. Tidak sedikit orang-orang yang mudah berprasangka, namun juga banyak orang-orang yang sukar berprasangka, kepribadian dan intelekgensia juga faktor lingkungan cukup berkaitan dengan munculnya prasangka. Namun demikian belum jelas benar ciri-ciri kepribadian mana yang menbuat seseorang untuk berprasangka. Kondisi lingkungan atau wilayah yang tidak mapan pun cukup beralasan dapat menimbulkan prasangka suatu individu atau kelompok sosial tertentu.
Seorang yang mempunyai prasangka rasial, biasanya bertindak diskriminasi terhadap ras yang diprasangkainya. Demikian juga sebaliknya, seorang yang berprasangka dapat saja berprilaku tidak diskriminatif. Sikap berprasangka jelas tidak adil, sebab sikap yang diambil hanya berdasarkan pada pengalaman atau apa yang didengar.
Contoh-contoh sikap diskriminatif: prasangka diskriminasi ras yang berkembang di kawasan Afrika Selatan dan sekitarnya membuat kawasan ini selalu bergolak. Tindak kekerasan di Afrika Selatan jelas-jelas merupakan manifestasi dari pertentangan sosial yang berlarut-larut.

1.1   SEBAB-SEBAB TIMBULNYA PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
-          Berlatar belakang sejarah
Orang-orang kulit putih di Amerika Serikat berprasangka negatif terhadap orang-orang Negro, berlatar belakang pada sejarah masa lampau, bahwa orang-orang kulit putih sebagai tuan dan orang-orang Negro berstatus sebagai budak. Prasangka terhadap orang-orang Negro sebagai biang keladi kerusuhan dan keonaran belum sirna sampai dengan generasi-generasi sekarang ini.
-          Dilatarbelakangi oleh perkembangan sosio-kulitural dan situasional
Suatu prasangka muncul dan berkembang dari suatu individu terhadap individu lain, atau terhadap kelompok sosial tertentu manakala terjadi penurunan status atau terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh pimpinan perusahaan terhadap karyawannya. Pada sisi lain prasangka bisa berkembang lebih jauh, sebagai akibat adanya jurang pemisah antara kelompok orang-orang kaya dengan golongan orang-orang miskin
-          Bersumber dari faktor kepribadian
Keadaan frustasi dari beberapa orang atau kelompok sosial tertentu merupakan kondisi yang cukup untuk menimbulkan tingkah laku agresif. Tipe authoritarian personality adalah sebagai ciri kepribadian seseorang yang penuh prasangka, dengan ciri-ciri bersifat konservatif dan bersifat tertutup
-          Berlatar belakang dari perbedaan keyakinan, kepercayaan dan agama
Bisa ditambah lagi dengan perbedaan pandangan politik, ekonomi dan ideologi. Prasangka yang berakar dari hal-hal tersebut di atas dapat dikatakan sebagai suatu prasangka yang bersifat universal

1.2   DAYA UPAYA UNTUK MENGURANGI ATAU MENGHILANGKAN PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
-          Perbaikan kondisi sosial ekonomi
Pemerataan pembangunan dan usaha peningkatan pendapatn bagi wrga negara Indonesia yang masih tergolong di bawah garis kemiskinan akan mengurangi adanya kesenjangan-kesenjangan sosial antara di kaya dan si miskin. Melalui pelaksaan program-program pembangunan yang mantap yang didukung oleh lembaga-lembaga ekonomi pedesaan seperti BUUD dan KUD. Juga melalui program KCK, KMKP dan dalam sektor pertanian dengan program intensifikasi khusus (insus), proyek PIR juga proyek Tebu Rakyat
-          Perluasan kesempatan belajar
Adanya usaha-usaha pemerintahan dalam perluasan kesempatan belajar bagi seluruh warganegara Indonesia, paling tidak dapat mengurangi prasangka bahwa pendidikan, terutama pendidikan tinggi hanya dapat dinikmati oleh kalangan masyarakat menengah dan kalangan atas. Dengan memberi kesempatan luas untuk mencapai tingkat pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi bagi seluruh warga negara Indonesia tanpa kecuali, prasangka dan perasaan tidak adil pada sektor pendidikan cepat atau lambat akan hilang lenyap
-          Sikap terbuka dan sikap lapang
Harus selalu kita sadari bahwa berbagai tantangan yang datang dari luar maupun yang datang dari dalam negeri, semuanya akan dapat merongsong keutuhan negara dan bangsa. Kebhinekaan masyarakat berikut sejumlah nilai yang melekat, merupakan basis empuk bagi timbulnya prasangka, diskriminasi, dan keresahan. Bukan mustahil kalau mereka memanfaatkan situasi berprasangka, resah, dan kemelut. Sesungguhnya idealisme paham kebangsaan yang mencanangkan persatuan dan kemerdekaan, telah menumbuhkan sikap kesepakatan, solidaritas dan loyalitas tinggi.

2.       ETNOSENTRISME

Sikap suku bangsa atau ras tertentu akan memiliki ciri khas kebudayaan, yang sekaligus menjadi kebanggaan mereka. Etnosentrisme nampaknya merupakan gejala sosial yang universal, dan sikap yang demikian biasanya dilakukan secara tidak sadar. Sikap etnosentrisme dalam tingkah laku berkomunikasi nampak canggung, tidak luwes. Akibatnya, etnosentrisme penampilan yang etnosentrik, dapat menjadi penyebab utama kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Etnosentrisme dapat dianggap sebagai sikap dasar ideologi

TOPIK 9: AGAMA DAN MASYARAKAT

1.       FUNGSI AGAMA
Ada tiga aspek penting yang selalu dipelajari, yaitu kebudayaan, system sosial dan kepribadian. Ketiga aspek tersebut merupakan kompleks fenomena sosial terpadu yang pengaruhnya dapat diamati perilaku manusia, sehingga timbul pertanyaan.
Fungsi agama dalam pengukuhan nilai-nilai, bersumber pada kerangka acuan yang bersifat sakral, maka normanya pun dikukuhkan dengan sanksi-sanksi sakral. Fungsi agama dibidang sosial adalah fungsi penentu, dimana agama menciptakan suatu ikatan bersama. Fungsi agama sebagai sosialisasi individu ialah individu, pada saat dia tumbuh menjadi dewasa, memerlukan suatu system nilai sebagai semacam tuntunan umum untuk mengarahkan aktivitasnya dalam masayarakat dan berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiannya.

2.       PERLEMBAGAAN AGAMA
Agama begitu universal, permanen, dan mengatur dalam kehidupan sehingga bila tidak memahami agama, akan sukar memahami masyarakat. Kaitan agama dengan masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak menggambarkan sebenarnya secara utuh (Elizabeth K. Nottingham, 1954)
-          Masyarakat yang terbelakang dan nilai-nilai sosial
Sifat-sifatnya: agama memasukkan pengaruhnya yang sakral kedalam system nilai masyarakat secara mutlak. Agama jelas menjadi focus utama bagi pengintegrasian dan persatuan dari masyarakat secara keseluruhan
-          Masyarakat-masyarakat praindustri yang sedang berkembang
Keadaan masyarakatnya tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi yang lebih tinggi daripada tipe pertama. Agama melalui wahyunya atau kitab sucinya memberikan petunjuk kepada manusia guna memenuhi kebutuhan mendasar, yaitu selamat di dunia dan selamat di akhirat, didalam perjuangannya tentu tidak boleh lalai. Agama menjadi salah satu aspek kehidupan semua kelompok sosial.
Bermula dari para ahli agama yang mempunyai pengalaman agama dan adanya fungsi deferensiasi dan stratifikasi yang ditimbulkan oleh perkembangan agama, maka tampillah organisasi keagamaan yang terlembaga dan fungsinya adalah mengelola masalah keagamaan.

Lembaga-lembaga keagamaan pada puncaknya berupa peribadatan, pola ide-ide dan keyakinan-keyakinan, dan tampil pula sebagai asosiasi atau organisasi. Organisasi keagamaan yang tumbuh secara khusus semula dari pengalaman agama tokoh kharismatik pendiri organisasi, kemudian menjadi organisasi keagamaan yang terlembaga, contohnya adlah muhammadiyah.

Organisasi ini menjadi organisasi sosial islam yang penting, dipelopori oleh pribadi Kiai Haji ahmad Dahlan yang menyebarkan pemikiran Muhammad Abduh dari Tafsir Al-Manar, ayat suci Al-Qur’an telah memberi inspirasi kepada Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah salah satu motto-nya adlah bahwa Muhammadiyah dipandang sebagai “segolongan dari kaum” mengajak kepada kebaikan, mencegah perbuatan jahat (amar ma’ruf nahi’ainil munkar). Organisasi agama ini tidak lepas dari tokoh kharismatik Dahlan (di Indonesia) dan Abduh yang memikat Dahlan, terutama dalam praktek lahiriah dan pembaharuan pemikiran (ijtihad) menyangkut maslah fundamental masyarakat dan umat islam.

Dari contoh sosial, lembaga keagamaan berkembang sebagai pola ibadah, pola ide-ide, ketentuan (keyakinan), dan tampil sebagai bentuk asosiasi atau organisasi. Perlembagaan agama puncaknya terjadi pada tingkat intelektual, tingkat pemujaan (ibadat), dan tingkat organisasi.

Tampilnya organisasi agama adlah akibat adanya “perubahan batin” atau kedalaman beragama, mengimbangi perkembangan masyarakat dalam hal alokasi fungsi, fasilitas, produksi, pendidikan, dan sebagainya. Agama menuju ke pengkhususan fungsional. Pengaitan agama tersebut mengambil bentuk dalam berbagai corak organisasi keagamaan


TOPIK 8: ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, DAN KEMISKINAN

1.       Ilmu pengetahuan
Dikalangan ilmuwan ada keseragaman pendapat, bahwa ilmu itu selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dengan pangkal tumpuan (obyek) tertentu dengan sistematis, metodis, rasional/logis, empiris, umum, dan akumulatif.
Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan objektif diperlukan sikap yang bersifat ilmiah. Sikap bersifat ilmiah itu meliputi 4 hal:
-          Tidak ada perasaan yang bersifat pamrih sehingga mencapai pengetahuan ilmiah yang objektif
-          Selektif
-          Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak dapat diubah
-          Merasa pasti bahwa setiap pendapat, teori, maupun aksioma terdahulu telah mencapai kepastian
Ilmu pengetahuan sekarang menghadapi kenyataan kemiskinan, yang pada hakikatnya tidak dapat melepaskan diri dari kaitannya dengan ilmu ekonomi karena kemiskinan merupakan persoalan ekonomi yang paling elementer, dimana kekurangan dapat menjurus kepada kematian.

2.       TEKNOLOGI
Teknologi memperlihatkan fenomenanya dalam masyarakat sebagai hal imperasional dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan manusia menjadi lingkup teknis. Jadi teknik menurut ellul adalah berbagai usaha, metode dan cara untuk memperoleh hasil yang sudah distandarisasi dan diperhitungkan sebelumnya. Fenomena teknik pada masyarakat kini menurut sastrapratedja (1980) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-          Rasionalitas (tindakan spontak oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional)
-          Artifisialitas (selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah)
-          Otomatisme (dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan serba otomatis)
-          Teknis berkembang pada suatu kebudayaan
-          Monisme (semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung)
-          Universalisme (teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan)
-          Otonomi (teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri)
Luasnya bidang teknik, digambarkan oleh ellul sebagai berikut:
-          Teknik meliputi bidang ekonomi
-          Teknik meliputi bidang organisasi seperti administrasi, pemerintahan, manajemen, hokum dan militer
-          Teknik meliputi bidang manusiawi
Teknoligi tepat guna sering tidak berdaya menghadapi teknologi Barat. Ciri-ciri teknologi barat adalah sebagai berikut:
-          Serba intensif dalam segala hal
-          Dalam struktur sosial, teknologi barat bersifat melestarikan sifat kebergantungan
-          Menganggap dirinya sebagai pusat dari yang lain

3.       ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI DAN NILAI
Ilmu pengetahuan dan teknologi sering dikaitkan dengan nilai atau moral. Penerapan ilmu pengetahuan khususnya teknologi sering kurang memperhatikan masalah nilai, moral atau segi-segi manusiawinya. Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penyangga tubuh pengetahuan yaitu : ontologis, epistemologis dan aksiologis. Kaitan ilmu teknologi dengan nilai atau moral, berasal dari akses penerapan ilmu dan teknologi sendiri, dalam hal ini dibagi menjadi dua golongan:
-          Golongan yang menyatakan ilmu dan teknologi adalah bersifat netral terhadap nilai-nilai baik secara ontologis maupun secara aksiologis
-          Goolongan yang menyatakan bahwa ilmu dan teknologi itu bersifat netral hanya dalam batas-batas metafisik keilmuwan
Oleh karena itu, ada upaya untuk menjinakkan teknologi, diantaranya:
-          Mempertimbangkan atau kalau perlu mengganti kriteria utama dalam menolak atau menerapkan suatu inovasi teknologi
-          Pada tingkat konsekuensi sosial, penerapan teknologi harus merupakan hasil kesepakatan ilmuwan sosial dari berbagai disiplin ilmu.

4.       KEMISKINAN
Garis kemiskinan, yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bias dipengaruhi oleh tiga hal:
-          Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok
-          Posisi manusia dalam lingkungan sekitar
-          Kebutuhan obyektif manusia untuk bias hidup secara manusiawi
Atas dasar ukuran ini, maka mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan memiliki ciri-ciri:
-          Tidak memiliki factor produksi sendiri seperti tanah, modal, keterampilan, dsb
-          Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri
-          Tingkat pendidikan mereka rendah
-          Kebanyakan tinggal didesa sebagai pekerja bebas self employed
-          Banyak yang hidup dikota berusia muda, dan tidak mempunyai keterampilan
Tetapi kalau kita menganut teori fungsionalitas, kemiskinanpun mempunyai sejumlah fungsi:
-          Fungsi ekonomi (penyediaan tenaga kerja, dana sosial, lapangan kerja, memanfaatkan barang bekas)
-          Fungsi sosial (sumber imajinatif kesulitan hidup bagi orang kaya, merangsang munculnya badan amal)
-          Fungsi kultural (sumber inspirasi kebijaksanaan teknokrat dan sumber inspirasi sastrawan dan memperkaya budaya asing)
-          Fungsi politik (berfungsi sebagai kelompok gelisah atau masyarakat marginal untuk musuh bersaing bagi kelompok lain)