Kamis, 02 Januari 2014

TOPIK 9: AGAMA DAN MASYARAKAT

1.       FUNGSI AGAMA
Ada tiga aspek penting yang selalu dipelajari, yaitu kebudayaan, system sosial dan kepribadian. Ketiga aspek tersebut merupakan kompleks fenomena sosial terpadu yang pengaruhnya dapat diamati perilaku manusia, sehingga timbul pertanyaan.
Fungsi agama dalam pengukuhan nilai-nilai, bersumber pada kerangka acuan yang bersifat sakral, maka normanya pun dikukuhkan dengan sanksi-sanksi sakral. Fungsi agama dibidang sosial adalah fungsi penentu, dimana agama menciptakan suatu ikatan bersama. Fungsi agama sebagai sosialisasi individu ialah individu, pada saat dia tumbuh menjadi dewasa, memerlukan suatu system nilai sebagai semacam tuntunan umum untuk mengarahkan aktivitasnya dalam masayarakat dan berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiannya.

2.       PERLEMBAGAAN AGAMA
Agama begitu universal, permanen, dan mengatur dalam kehidupan sehingga bila tidak memahami agama, akan sukar memahami masyarakat. Kaitan agama dengan masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak menggambarkan sebenarnya secara utuh (Elizabeth K. Nottingham, 1954)
-          Masyarakat yang terbelakang dan nilai-nilai sosial
Sifat-sifatnya: agama memasukkan pengaruhnya yang sakral kedalam system nilai masyarakat secara mutlak. Agama jelas menjadi focus utama bagi pengintegrasian dan persatuan dari masyarakat secara keseluruhan
-          Masyarakat-masyarakat praindustri yang sedang berkembang
Keadaan masyarakatnya tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi yang lebih tinggi daripada tipe pertama. Agama melalui wahyunya atau kitab sucinya memberikan petunjuk kepada manusia guna memenuhi kebutuhan mendasar, yaitu selamat di dunia dan selamat di akhirat, didalam perjuangannya tentu tidak boleh lalai. Agama menjadi salah satu aspek kehidupan semua kelompok sosial.
Bermula dari para ahli agama yang mempunyai pengalaman agama dan adanya fungsi deferensiasi dan stratifikasi yang ditimbulkan oleh perkembangan agama, maka tampillah organisasi keagamaan yang terlembaga dan fungsinya adalah mengelola masalah keagamaan.

Lembaga-lembaga keagamaan pada puncaknya berupa peribadatan, pola ide-ide dan keyakinan-keyakinan, dan tampil pula sebagai asosiasi atau organisasi. Organisasi keagamaan yang tumbuh secara khusus semula dari pengalaman agama tokoh kharismatik pendiri organisasi, kemudian menjadi organisasi keagamaan yang terlembaga, contohnya adlah muhammadiyah.

Organisasi ini menjadi organisasi sosial islam yang penting, dipelopori oleh pribadi Kiai Haji ahmad Dahlan yang menyebarkan pemikiran Muhammad Abduh dari Tafsir Al-Manar, ayat suci Al-Qur’an telah memberi inspirasi kepada Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah salah satu motto-nya adlah bahwa Muhammadiyah dipandang sebagai “segolongan dari kaum” mengajak kepada kebaikan, mencegah perbuatan jahat (amar ma’ruf nahi’ainil munkar). Organisasi agama ini tidak lepas dari tokoh kharismatik Dahlan (di Indonesia) dan Abduh yang memikat Dahlan, terutama dalam praktek lahiriah dan pembaharuan pemikiran (ijtihad) menyangkut maslah fundamental masyarakat dan umat islam.

Dari contoh sosial, lembaga keagamaan berkembang sebagai pola ibadah, pola ide-ide, ketentuan (keyakinan), dan tampil sebagai bentuk asosiasi atau organisasi. Perlembagaan agama puncaknya terjadi pada tingkat intelektual, tingkat pemujaan (ibadat), dan tingkat organisasi.

Tampilnya organisasi agama adlah akibat adanya “perubahan batin” atau kedalaman beragama, mengimbangi perkembangan masyarakat dalam hal alokasi fungsi, fasilitas, produksi, pendidikan, dan sebagainya. Agama menuju ke pengkhususan fungsional. Pengaitan agama tersebut mengambil bentuk dalam berbagai corak organisasi keagamaan


0 komentar:

Posting Komentar